Beranda Berita Terbaru Renungan Mingguan 7 Februari 2021

Renungan Mingguan 7 Februari 2021

493
0

Sabda Tuhan Hari Ini 7 Februari 2021, Mrk 1:29-39

Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit.

Sekeluarnya dari rumah ibadat di Kapernaum Yesus, dengan Yakobus dan Yohanes, pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Yesus pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Yesus membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.

Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Keesokan harinya, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia. Waktu menemukan Yesus, mereka berkata, “Semua orang mencari Engkau.” Jawab Yesus, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana pun Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah
datang.” Lalu pergilah Yesus ke seluruh Galilea, memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Demikianlah Injil Tuhan

Renungan

Ada saat di mana hidup menjadi gelap. Semuanya serba asam, pahit. Sesak. Terhimpit. Tak bisa bergerak. Semua serba layu dan kering. Tanpa harapan. Tanpa masa depan. Hidup seperti perjalanan berat: memikul peti mati untuk diri sendiri menuju kubur kebuntuan kekal. Itulah yang dirasakan Ayub. Resah dan gelisah, tetapi tak tahu mau ke mana dan dengan siapa.

Ada saatnya kita seperti Ayub: di mana-mana seperti penuh masalah. Di rumah: keluarga sakit, kurang ini dan itu, keluarga besar konflik, dll. Di jalan: macet, diancam pencopet, dll. Di tempat kerja, semua upaya seperti sia-sia. Ini mungkin saat kelahiran kembali. Hidup adalah rahim kehidupan, ada saatnya kita harus keluar dari rahim yang satu ke yang lain. Ini menyakitkan, tetapi harus dilewati. Seperti Ayub, ia akhirnya mengubah cara pandang tentang dirinya, manusia, dunia, dan Allah. Ayub berubah karena berada dalam relasi dengan Tuhan lewat firman-Nya.

Firman Tuhan adalah pedang, yang siap memutuskan tali-tali penyanggah kita yang lama, tetapi juga membuka jalan baru untuk kita. Karena itu, panggilan yang hakiki untuk orang beriman adalah mewartakan kabar baik. “Celakalah aku jika akau tidak mewartakan Injil,” kata Paulus dalam bacaan kedua. Injil itulah sukacita kehidupan: dari kesesakan kita dibawa ke kelapangan, dari gelap ke terang. Kenyataan itu ditunjukkan Yesus dalam bacaan Injil. Ia menyembuhkan orang sakit dan mengusir kekuatan kegelapan. Yesus telah menjadi jalan dalam kebuntuan. Ia menjadi dokter. Cahaya di tengah kegelapan hidup. Dengan-Nya beban hidup menjadi ringan.

Ya Bapa, kami sering merasa hidup ini sebagai sebuah penjara. Jauh dari sukacita dan kebahagiaan. Namun, kami tahu bahwa Engkaulah sumber hidup. Bantulah kami untuk tidak menjadi beban hidup, tetapi menjadi sumber sukacita bagi sesama. Amin.

Sumber renungan: Ziarah Batin 2021, OBOR Indonesia

Lihat Artikel Lain :

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here