Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 4 Agustus 2025

Renungan Harian Hari Ini 4 Agustus 2025, Bacaan Injil Matius 14:13-21 (baca Alkitab – klik disini)

Bacaan I: Bil. 11:4b-15; Mazmur: 81:12-17; R:2a ; PEKAN BIASA XVIII Pw St.Yohanes Maria Vianney, Im (P);

Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?

Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.

Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”

Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah.

Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa panganan yang digoreng.

Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.

BACAAN I – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 4 Agustus 2025

Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka TUHAN dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa.

Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?

Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya?

Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata: Berilah kami daging untuk dimakan.

Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku.

Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku.”

.

(81-13) Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!

(81-14) Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!

(81-15) Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku.

(81-16) Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya.

(81-17) Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.”

.

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.”

Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.”

Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.”

Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.”

Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.

Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.

Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

.

Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria.

Berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang.”

Jawab Nabot kepada Ahab: “Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!”

Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: “Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.” Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

Kemudian datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: “Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?”

Lalu jawabnya kepadanya: “Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu.”

Kata Izebel, isterinya, kepadanya: “Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu.”

Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot.

BACAAN OFISI – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 4 Agustus 2025

Dalam surat itu ditulisnya demikian: “Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.”

Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka.

Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: “Nabot telah mengutuk Allah dan raja.” Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati.

Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: “Nabot sudah dilempari sampai mati.”

Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: “Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati.”

Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

BACAAN OFISI – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 4 Agustus 2025

Tetapi datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya:

“Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia telah pergi ke kebun anggur Nabot untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu.”

Kata Ahab kepada Elia: “Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?” Jawabnya: “Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.

Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel.

Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban.

Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu:

“Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya.”

.

renungan harian hari ini

Yesus adalah sosok yang dikenal banyak orang. Ke mana pun Dia pergi, banyak orang dari berbagai kalangan berkumpul untuk berjumpa dengan-Nya. Selain untuk minta disembuhkan dari penyakit, mereka datang kepada-Nya karena mereka lapar akan Allah.

Kemudian, la mewartakan Kerajaan Allah serta membuat tanda dan mukjizat untuk membangkitkan harapan mereka bahwa Allah sedang bertindak dengan cara yang baru dan penuh kuasa untuk membebaskan manusia dari dosa dan membawa berkat kerajaan-Nya kepada mereka.

Selain itu, Yesus ingin juga menunjukkan betapa Allah memerhatikan mereka. Ketika menjelang malam, la memerintahkan para murid-Nya untuk memberi orang banyak itu makan. Mengapa Yesus meminta mereka untuk melakukan hal yang tampaknya mustahil, yaitu memberi makan orang banyak yang lapar ketika tidak ada persediaan makanan yang cukup pada mereka?

Yesus sepertinya ingin menguji iman mereka dan memberi mereka tanda akan campur tangan ilahi dan kemurahan Allah bagi umat-Nya. Yesus mengambil sedikit dari yang mereka miliki lima roti dan dua ikan – dan dengan mengucap syukur kepada Bapa-Nya, membagi-bagikannya kepada semua orang sampai mereka kenyang.

Apakah kita berani bertindak seperti Yesus, untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan, padahal apa yang kita miliki sangatlah sedikit? Sadarkah kita bahwa dengan percaya kepada campur tangan Allah, milik kita yang sedikit niscaya akan bermanfaat bagi banyak orang yang berkekurangan?

.

Saudara-saudari terkasih, mari kita menutup permenungan ini dengan hati yang terbuka kepada sabda Tuhan. Renungkan kembali dalam keheningan: kepada siapa kita bisa berbagi hari ini, meski hanya dengan sedikit yang kita punya? Sebab kasih yang besar justru sering hadir lewat tindakan kecil yang dilakukan dengan iman.

Ya Tuhan, kami yakin tak selalu yang melimpah jadi berkat. Kadang yang sederhana dan terbatas, bila diberikan dengan kepercayaan dan kasih, justru menjadi jalan untuk menyatakan karya-Mu. Ketika tangan berani terbuka, hati pun siap dipakai untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

Ajarlah kami untuk tidak takut berbagi, meskipun yang kami punya terasa tidak cukup. Jadikanlah kami murid-murid-Mu yang murah hati dan percaya bahwa dalam kelemahan kami, kuasa-Mu nyata dan mencukupi bagi banyak orang.

Kiranya setiap niat baik yang muncul dari dalam hati, Engkau kuatkan dan kembangkan, agar menjadi berkat bagi sesama. Jangan biarkan kami menutup mata terhadap kebutuhan orang di sekitar, melainkan tuntun kami untuk peka, rela berbagi, dan setia dalam pelayanan kasih.

Berilah kami iman yang teguh, agar tidak bersandar pada kemampuan kami sendiri, melainkan percaya penuh pada penyelenggaraan ilahi. Sebab hanya dengan pertolongan-Mu, yang sedikit bisa menjadi cukup, dan yang kecil dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Amin.

.

Tuhan, penuhilah hati kami dengan rasa syukur dan berikanlah kami hati yang tulus untuk berbagi dengan sesama kami. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Baca Juga: Renungan Harian Hari Ini 3 Agustus 2025
Baca Juga (KLIK): Doa Pagi Katolik Untuk Awali Hari Indahmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here