Renungan Harian Hari Ini 15 September 2026, Bacaan Injil Yoh. 19:25-27 (Luk. 2:33-35) (baca Alkitab – klik disini)
Bacaan I: Ibr. 5: 7-9; Mazmur: 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20; PEKAN BIASA XXIV Pw SP Maria Berdukacita (P);
DAFTAR ISI | Klik 👇🏻
BACAAN I – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 15 September 2026
Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,
.
MAZMUR TANGGAPAN – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 15 September 2026
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku!
Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.
Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.
Engkau benci kepada orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada TUHAN.
Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!
Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!
Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu terhadap persekongkolan orang-orang; Engkau melindungi mereka dalam pondok terhadap perbantahan lidah.
.
BACAAN INJIL – Renungan Harian Hari Ini 15 September 2026
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
.
BACAAN OFISI – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 15 September 2026
Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih.
Dengan demikian datanglah ia sampai ke depan pintu gerbang istana raja, karena seorang pun tidak boleh masuk pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung.
Di tiap-tiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; oleh banyak orang dibentangkan kain kabung dengan abu sebagai lapik tidurnya.
Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, maka sangatlah risau hati sang ratu, lalu dikirimkannyalah pakaian, supaya dipakaikan kepada Mordekhai dan supaya ditanggalkan kain kabungnya dari padanya, tetapi tidak diterimanya.
Maka Ester memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan baginda melayani dia, lalu memberi perintah kepadanya menanyakan Mordekhai untuk mengetahui apa artinya dan apa sebabnya hal itu.
Lalu keluarlah Hatah mendapatkan Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja,
dan Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta berapa banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman akan ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi.
Juga salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka itu, diserahkannya kepada Hatah, supaya diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Lagipula Hatah disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda.
BACAAN OFISI – Renungan Harian dan Bacaan Injil 15 September 2026
Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester.
Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai:
“Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja.”
Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai,
maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi.
Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”
Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai:
“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”
.

Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 15 September 2026
Situasi penderitaan sering kali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Entah kita beriman atau tidak, kita akan mengalami situasi hidup demikian. Orang beriman tidak akan membiarkan kerohaniannya terganggu karena mengalami penderitaan dalam hidupnya.
la dapat bersukacita dan tersenyum saat hidupnya nyaman atau bahagia. la juga dapat meratap dan menangis saat hidupnya mengalami kesusahan dan penderitaan. Namun, semua situasi itu ia jalani dalam iman. Dalam kebahagiaannya ia bersyukur, dan dalam ratapannya ia berdoa.
Dinamika hidup seperti ini telah dilakukan oleh Yesus pada saat la hidup bersama para murid-Nya. Yesus telah mengajarkan kepada para murid tentang sebuah ketaatan yang paripurna, sekalipun mengalami situasi hidup yang berat.
Puncak dari semua pengorbanan Yesus adalah penyaliban di Bukit Golgota. Maria adalah seorang ibu yang paling berdukacita dan menderita pada waktu itu. Dapat kita bayangkan betapa hancur hati seorang ibu yang menyaksikan Anak tunggalnya yang dikandung dan dibesarkannya mengalami penderitaan yang begitu hebat.
Namun dalam situasi ini, Yesus memperlihatkan kepada kita semua kasih yang tak terperikan. Yesus melupakan penderitaan-Nya dan memerhatikan penderitaan ibu-Nya dari atas kayu salib.
Dari atas kayu salib, Yesus menunjukkan kasih Allah yang tidak terbatas kepada kita. Dukacita dan penderitaan Maria mengingatkan kita untuk memandang Dia yang menderita di salib dan berserah diri kepada-Nya yang telah mengalahkan penderitaan dengan kemenangan yang mulia.
Bersama Dia yang telah mengubah maut menjadi hidup, kita dapat menerima situasi sesulit apa pun dalam iman. Mampukah kita meneladan ketaatan Yesus dan berserah diri seperti Bunda Maria, ketika mengalami penderitaan dan kesulitan dalam hidup?
.
Doa Renungan Harian dan Bacaan Injil 15 September 2026
Bapak, Ibu, dan saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan hari ini dengan memandang salib Kristus bukan sebagai tanda kekalahan, melainkan sebagai tanda kasih yang menyelamatkan. Di sana kita melihat kesetiaan Yesus sampai akhir. Semoga setiap salib kehidupan yang kita pikul tidak membuat kita menyerah, tetapi justru meneguhkan iman, pengharapan, dan keberanian untuk terus berjalan.
Ya Bapa, dalam setiap keadaan hidup, ajarlah kami untuk tetap datang kepada-Mu. Ketika hati kami bersukacita, biarlah syukur menjadi doa kami; ketika air mata mengalir, biarlah doa menjadi tempat kami bersandar. Jangan biarkan penderitaan menjauhkan kami dari-Mu, tetapi jadikan setiap pengalaman sebagai jalan untuk semakin percaya.
Engkau telah menunjukkan ketaatan dan kasih yang sempurna ketika memanggul salib hingga Golgota. Saat kami berhadapan dengan kesulitan, berilah kami keberanian untuk tetap setia. Ketika beban terasa melampaui kekuatan, teguhkan langkah kami agar tidak menyerah dan tetap percaya bahwa kasih-Mu menyertai setiap perjalanan kami.
Kami belajar dari Bunda Maria untuk tetap berdiri dalam iman ketika kehidupan menghadirkan dukacita yang begitu dalam. Berikanlah hati yang tabah dan penuh penyerahan. Semoga dalam penderitaan kami tetap mampu melihat harapan, dalam kesedihan menemukan penghiburan, dan dalam setiap keadaan semakin percaya bahwa kehidupan berada dalam tangan-Mu. Amin.
.
Ya Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk melihat penderitaan yang kami alami sebagai jalan menuju kemuliaan yang Engkau janjikan. Amin.
Sumber: Ziarah Batin 2026, OBOR Indonesia
Baca Juga: Renungan Harian Hari Ini 14 September 2026
Baca Juga (KLIK): Doa Pagi Katolik Untuk Awali Hari Indahmu





