Beranda APP 2019 Pertemuan APP 2 – 2019

Pertemuan APP 2 – 2019

3823
0
BAHAN SUPLEMEN PERTEMUAN APP II 

 

LIMA JALAN MENUJU KEKUDUSAN MENURUT “GAUDETE ET EXSULTATE” 
Seruan Apostolik Paus Fransiskus 

MENGENAI KEKUDUSAN DALAM DUNIA MODERN

Pada tanggal 9 April 2018, Paus Fransiskus mengeluarkan seruan apostolik Gaudete et Exsultate yang berarti “Bersukacitalah dan Bergembiralah”.

Seruan tersebut didasarkan pada Sabda Yesus dalam Matius 5:12: “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.”Dalam seruan tersebut,Paus ingin menekankan terutama panggilan hidup kudus yang Tuhan alamatkan kepada setiap orang secara pribadi. Maka dari itu, Paus pun mengajak setiap orang agar, “Jangan takut akan kekudusan yang takkan menghilangkan energi, vitalitas, atau kegembiraan Anda, ”

Tulisan ini mengulas lima point penting dari seruan apostolik tersebut berdasarkan tulisan Romo James Martin SJ berjudul: “Top Five Takeaways from ‘Gaudete et Exsultate‘ – www.americamagazine.org.

1. KEKUDUSAN BERARTI MENJADI DIR1 ANDA SENDIRI.

Paus Fransiskus menawarkan kepada kita banyak contoh hidup suci dalam seluruh dokumen .ini: St. Theresia dari Lisieux, Karmelites Prancis yang menemukan kekudusan dalam melakukan tugas-tugas kecil; St. Ignatius dari Loyola, pendiri Yesuit yang mencari Tuhan dalam segala hal; St. Philipus Neri, pendiri Tarekat Oratorian, yang terkenal karena selera humornya.

‘Artikel diambil dari https://ofm.or.id/lima-jalan-menuju-kekudusan/ pada hari Sabtu, 14 Juli 2018 pukul 21.00 dengan revisi seperlunya.

Paus Fransiskus mengatakan, orang-orang kudus berdoa bagi kita dan memberi kita teladan cara hidup. Akan tetapi, kita tidak perlu menjadi “salinan” dari orang-orang kudus tersebut. Kita perlu menjadi diri kita sendiri. Setiap orang beriman perlu “membedakan jalannya sendiri” dan “memunculkan yang terbaik dari dirinya sendiri,” sebagaimana dikatakan oleh Thomas Merton: “Bagi saya menjadi orang suci berarti menjadi diri saya sendiri.”

2. KEHIDUPAN SEHARI-HARI DAPAT MEMBAWA KITA KEPADA KEKUDUSAN.

Bagi Paus Fransiskus, kita tidak perlu menjadi uskup, imam atau anggota ordo religius untuk menjadi suci. Setiap orang dipanggil untuk menjadi orang suci – sebagaimana dikatakan Konsili Vatikan II – entah sebagai seorang ibu atau ayah, seorang siswa atau seorang pengacara, seorang guru atau petugas kebersihan. Paus menyebut mereka ini sebagai “Saints nextdoor”.”Kita sering berpikir bahwa kekudusan hanya untuk mereka yang dapat mengundurkan diri dari urusan sehari-hari untuk menghabiskan banyak waktu dalam doa,” namun kata Paus “Bukan demikian halnya.” “Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menjalani hidup kita dalam cinta kasih dan dengan memberikan kesaksian dalam semua yang kita lakukan, di mana pun kita berada, “ujarnya.

Tidak berarti bahwa kita harus melakukan tindakan besar dan dramatis. Paus Fransiskus menawarkan contoh kesucian dalam hidup sehari-hari, misalnya: orang tua yang penuh kasih membesarkan anak-anak mereka; serta “gerakan kecil” dan pengorbanan yang dapat dilakukan seseorang, seperti memutuskan untuk tidak meneruskan fitnah. Paus menegaskan bahwa apabila kita dapat melihat kehidupan sendiri sebagai “misi,” maka kita akan segera menyadari bahwa kita dapat dengan penuh cinta kasih dan baik hati bergerak menuju kekudusan.

Paus menegaskan juga tidak harus “berleha-leha sampai pingsan dalam mengusahakan hidup mistik”. Kita juga tak perlu mengundurkan diri dari orang lain. Di sisi lain, kita tidak perlu terjebak dalam “perlombaan” yang terburu-buru dari satu hal ke hal lainnya. Hal terpenting untuk mengusahakan kekudusan dalam hidup sehari-hari, menurut Paus Fransiskus, adalah keseimbangan antara tindakan dan kontemplasi.

3. MENGHINDARI DUA MUSUH UTAMA: GNOSTISISME DAN PELAGIANISME

Meskipun begitu, ada musuh yang harus dihadapi setiap orang dalam mencapai kekudusan. Kedua musuh tersebut adalah Gnostisisme dan Pelagianisme. Kedua musuh tersebut menyelinap bagaikan sebuah kekudusan, padahal bukan.

Gnostisime merupakan paham yang menganggap bahwa keselamatan hanya diperoleh melalui pengetahuan yang khusus tentang Allah.

Sedangkan Pelagianisme merupakan paham yang menekankan bahwa usaha manusia sudah cukup untuk mencapai keselamatan.

Dewasa ini, Gnostisisme menggoda orang untuk berpikir bahwa mereka dapat membuat iman “sepenuhnya bisa dipahami” dan memaksa orang lain mengadopsi cara berpikir mereka. “Ketika seseorang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan,” (ex. Awam ke romo-romoan) kata Paus, “itulah tanda bahwa mereka tidak berada di jalan yang benar.” Dengan kata lain, menjadi orang yang tahu segalanya tidak akan menyelamatkan Anda. Sedangkan Pelagianisme sering kali memiliki, “obsesi dengan hukum, keasyikan dengan peluang-peluang sosial dan politik, terlalu cemas dengan liturgi gereja, doktrin dan prestise.” Ini sungguh membahayakan kekudusan karena merampok kita dari kerendahan hati, menempatkan kita di atas orang lain, dan hampir tak memberikan ruang untuk peranan rahmat Allah.
4. BERSIKAP BAIK 

Dalam “Gaudete et Exsultate“, Paus memberikan nasihat praktis bagi umat zaman modern untuk menjalani hidup menuju kepada kekudusan. Paus mengatakan, misalnya, jangan bergosip, hentikan penilaian dan yang paling penting berhenti bersikap kejam. Nasihat berbuat baik ini juga berlaku untuk “kegiatan online”. Komentar Paus tentang topik ini penting diingat. la menulis: “Online fitnah dan umpatan bisa menjadi kebiasaan karena di sana dapat dikatakan apa yang tidak dapat diterima dalam wacana publik.  Orang berusaha mengimbangi ketidakpuasan mereka sendiri dengan menghantam orang lain. Sambil mengklaim bahwa menegakkan perintah-perintah lain, mereka benar-benar mengabaikan perintah kedelapan yang melarang bersaksi palsu atau berbohong dan dengan kejam memfitnah orang lain.”Bagi Paus, menjadi suci, berarti berbuat baik.
5. UCAPAN BAHAGIA ADALAH PENUNJUK JALAN MENUJU KEKUDUSAN. 
Kekudusan adalah fokus seruan apostolik ini. Kekudusan itu bukan sekedar apa yang dimaksudkan Yesus dengan pewartaan-Nya, melainkan kekudusan adalah potret Tuhan Yesus sendiri. Untuk menjadi kudus kita dipanggil untuk menjadi miskin dalam roh, takut akan Allah, menjadi pembawa damai, haus dan lapar akan kebenaran, dan seterusnya.Paus Fransiskus mengatakan: “Berbahagialah orang yang berbelas kasih.” Dan mengatakan, belas kasihan, salah satu tema sentral kepausannya, memiliki dua aspek: membantu dan melayani orang lain, tetapi juga memaafkan dan memahami. Yesus tidak mengatakan, “Berbahagialah orang yang merencanakan pembalasan!”
 
Pertemuan II 
MEMPERJUANGKAN KEKUDUSAN DALAM HIDUP HARIAN 
PEMBUKA 

Lagu Pembuka 

Tanda Salib dan salam
P : Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus
U : Amin
P : Rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan dengan Roh Kudus, beserta kita.
U : Sekarangdan selama-lamanya

Kata Pengantar 

Bapak-ibu, dan saudara-saudari yang terkasih, 
Salah satu maksud dari gerakan Aksi Puasa Pembangunan adalah untuk mengajak umat semakin dapat memanfaatkan masa prapaskah sebagai kesempatan untuk mengalami pertobatan sejati, dengan menyesali, membenci, dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dosa dan bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan hidup kristiani. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium art. 110 mengajak kita semua agar membina pertobatan, terutama: “Pertobatan selama masa empat puluh hari hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial kemasyarakatan. Adapun praktek pertobatan, sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan zaman kita sekarang dari pelbagai daerah pun juga dengan situasi Umat beriman, hendaknya makin digairahkan, dan dianjurkan oleh pimpinan gerejawi seperti disebut dalam artikel 22. Namun puasa Paska hendaknya dipandang keramat, dan dilaksanakan di mana-mana pada hari Jumat dengan Sengsara dan Wafat Tuhan, dun bila dipandang berfaedah, diteruskan sampai Sabtu suci, supaya dengan demikian hati kita terangkat dan terbuka, untuk menyambut kegembiraan hari Kebangkitan Tuhan.
“Oleh karena itu, dalam pertemuan kedua ini, seruan apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada 9 April 2018 yang berjudul “Gaudete et Exultate” (Bersukacitalah dan Bergembiralah) menjadi inspirasi pengolahan kita. Seruan “Gaudete et Exultate” sendiri bersumber dari Khotbah Yesus di Bukit yang berbunyi, “Bersukacitalah dan bergembiralah karena upahmu besar di surga” (Mat 5:12). Melalui seruan apostolik ini, Paus Fransiskus mengajak kita semua untuk mengusahakan kekudusan di zaman ini (atau Zaman Now). Menurut Paus Fransiskus, mengusahakan kekudusan tidaklah harus menjadi serupa dengan santo atau santa, menjadi kaum religius/biarawan-biarawati. Kekudusan hidup seorang kristiani dapat diupayakan dengan cara-cara yang sederhana dan dapat kita lakukan setiap hari. Cara yang sederhana ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu oleh mereka yang sudah berumur maupun oleh anak kecil sekalipun. Perwujudannya pun juga bisa dilakukan di mana saja: bisa di tempat kerja, di gereja, di rumah, maupun di tempat pendidikan.
Bapak-ibu dan saudara-saudariyang terkasih, 
Marilah kita hening sejenak, kita sadari segala kelemahan kita yang terkadang kurang menanggapi panggilan Tuhan dalam mencari kekudusan di tengah dunia yang semakin individual ini.
Doa Tobat
P : Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah kabar baik dari Allah yang dapat menyelamatkan kami. Tuhan, kasihanilah kami.
U : Tuhan, kasihanilah kami.
P : Engkau menguatkan kami dan melindungi kami terhadap yang jahat. Kristus, kasihanilah kami.
U : Kristus, kasihanilah kami.
P : Engkau membimbing kami supaya kami dapat mengasihi Allah dan menjadi tabah hati seperti Engkau sendiri. Tuhan, kasihanilah kami.
U : Tuhan, kasihanilah kami. ‘
P : Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
U : Amin
Doa Pembuka
P : Marilah berdoa, (hening sejenak)
Ya Allah Bapa yang penuh dengan belas kasih, dalam kesempatan ini, kami bersama-sama ingin merenungkan ajakan Yesus kepada setiap orang untuk bertekun mengusahakan kekudusan di dalam hidup sehari-hari. Bantulah kami putra-putriMu agar dapat mewujudnyatakan hidup yang kudus tersebut dengan cara sederhana yang dapat kami lakukan di tengah dunia yang semakin individual ini. Ini semua kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Juru Selamat kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.
Bacaan (Matius 5:1-12)
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akah dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
P : Demikianlah Injil Tuhan
U : Terpujilah Kristus
Renungan Singkat 
Dalam bacaan Kitab Suci yang telah kita dengarkan, Yesus mengajak para murid pada waktu itu untuk berani melibatkan diri dalam kehidupan sehari-hari sebagai masyarakat Israel. Keterlibatan menuju kepada kekudusan yang diinginkan Yesus kepada para murid adalah semangat miskin, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, bermurah hati, suci hati, membawa damai, dan menerima penganiayaan dengan tabah. Yesus sendiri menginginkan agar para murid dapat melaksanakan tindakan kekudusan tersebut di tengah situasi masyarakat Israel yang cenderung membanggakan bangsanya sendiri dan memusuhi bangsa yang lain serta munculnya semangat mementingkan kepentingan dirinya sendiri di tengah masyarakat tersebut. Para murid dengan kekhasannya masing-masing diajak oleh Yesus untuk mengusahakan kekudusan di dalam hidup sehari-hari dengan cara mereka sendiri. Di sini pun, Yesus tidak membatasi mereka dengan aturan-aturan yang ketat untuk menjadi kudus, melainkan mengajak mereka semua untuk melakukan hidup harian mereka dengan penuh kasih.
Pertanyaan Permenungan / Sharing 
(Sebelum masuk dalam bagian permenungan/sharing, pemandu dapat membagi umat dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 8-10 orang. Cara pembagiannya bisa dengan berhitung atau sesuai dengan kelompok usia. Tunjuklah ketua dalam masing-masing kelompok untuk memandu jalannya sharing kelompok serta mencatat hasil sharing.)
  1. Menurut Anda, seperti apakah orang yang disebut kudus itu?
  2. Dalam ekshortasi “Gaudete et exultate” Paus Fransiskus mengatakan bahwa Setiap orang beriman perlu “membedakan jalannya sendiri” dan “memunculkan yang terbaik dari dirinya sendiri”. Adakah cara/jalan istimewa/khas yang dapat anda temukan dari hidup anda setiap hari untuk mengusahakan kekudusan?
Pleno Hasil Permenungan / Sharing 
(Inti pesan yang ingin disampaikan adalah, “Bentuk dan cara untuk mencapai kekudusan berbeda-beda untuk setiap pribadi. Dan kita tidak perlu meniru kekudusan orang lain, kita harus punya cara sendiri menuju kekudusan. Syukur-syukur orang lain meniru cara kita dalam mencapai kekudusan’: Hal tersebut selaras dengan ajakan dari Paus Fransiskus, janganlah takut menjadi kudus!”)
  • Perikop Sabda Bahagia yang kita dengarkan dalam pertemuan ini juga menjadi dasar permenungan Paus Fransikus dalam ekshortasi “Gaudete et exultate” yang ditulisnya untuk mengingatkan kita akan panggilan setiap orang dalam mengusahakan kekudusan di tengah tengah situasi zaman yang semakin mementingkan diri sendiri dan sekuler ini.
  • Jalan menuju kekudusan bukanlah jalan sempit yang hanya diperuntukkan bagi para santo-santa. Panggilan menuju kekudusan adalah panggilan bagi semua orang, tanpa kecuali. Untuk menjadi seorang yang kudus, seseorang tidak harus menjadi seorang uskup, imam, atau religius atau yang memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari urusan sehari-hari agar dapat mendedikasikan diri secara eksklusif dalam doa. Kita semua dipanggil menjadi orang kudus. Caranya ialah dengan hidup dalam kasih dan menawarkan Wesaksian kita sebagai seorang Kristiani setiap hari.
  • Bapa Suci menawarkan suatu cara yang paling sederhana dan praktis yang dapat kita lakukan, yakni dengan menghidupi kehidupan sehari-hari dengan penuh kesungguhan dan dilandasi dengan rasa cinta (menjadi ibu yang baik, guru yang baik, murid yang baik, frater yang baik, pekerja yang baik, dan sebagainya) dan menghindari hal-hal yang menjauhkan pada kekudusan (sikap mementingkan diri sendiri maupun menjauhkan diri dari Tuhan). Sebab, pada dasarnya panggilan untuk sampai pada kekudusan adalah panggilan semua orang.
  • Dalam Konteks zaman ini bagi Paus Fransiskus, perlu bagi setiap orang untuk menjalani hidup dengan penuh ketekunan, kesabaran, kerendahan hati, sukacita, keberanian, dan penuh semangat. Selain itu setiap usaha yang kita lakukan juga perlu dilandasi dengan doa dan persekutuan dengan sesama terlebih dengan Tuhan.
Doa UmatSpontan (berdasarkan sharing)
Bapa Kami 
Doa Penutup 
P : Marilah berdoa, (hening sejenak)
Ya Allah Bapa yang penuh dengan belas kasih, kami menghaturkan terima kasih karena berkat rahmat kasih-Mu, kami memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi kudus. Kami pun juga menyadari bahwa kekudusan ini dapat kami capai di dalam kehidupan kami sehari-hari. Bantulah kami agar kami pun mempunyai keberanian di dalam memperjuangkan kekudusan dalam kehidupan kami sehari-hari. Ini semua kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Juru Selamat kami. Amin.
Berkat 
P : Tuhan sertamu
U : Dansertamujuga
P : Semoga Allah yang Mahakuasa senantiasa memberkati kita. Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus
U : Amin
Lagu Penutup 

Lihat Artikel Lain :

    None Found

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here