Beranda Warta Paroki Perayaan Paskah & Hari Kartini 2019 Paguyuban Ibu-Ibu Paroki Bersama WKRI Ranting...

Perayaan Paskah & Hari Kartini 2019 Paguyuban Ibu-Ibu Paroki Bersama WKRI Ranting Jetis

3385
0

“Semangat kebangkitan Kristus menghalau kegelapan menuju terang”

Warta Paroki (24/4/2019). Ada yang istimewa di perayaan Paskah ini, yaitu bertepatan dengan peringatan hari Kartini, untuk itu paguyuban ibu-ibu paroki bersama wanita Katolik RI ranting Jetis menyelenggarakan perayaan Paskah dan Hari Kartini pada Rabu sore, bertempat di gedung sayap timur gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta.

Hadir pada perayaan ini romo Paroki, romo Rafael Tri Wijayanto, Pr, wakil ketua dewan paroki bapak Ludovicus Joko Sunarno, sekretaris dewan paroki, bapak Ferdinand Dody Darmawan, para ketua lingkungan, suster serta tamu undangan.

Acara diawali dengan doa dan lagu pembukaan, dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, ibu Yoanita. Selain sambutan dari ketua PIIP serta romo Paroki, acara juga di selingi dengan persembahan tarian perwakilan dari lingkungan.

Renungan Hari Paskah dan Kartini WKRI Jetis dibawakan oleh suster Luisa Anin, PI, dengan tema ” Merayakan Peran Wanita”.

Mengambil cuplikan bacaan dari injil Yoh 20:11-18, suster Luisa menyampaikan bahwa Paskah dan hari Kartini adalah saat untuk kembali bersyukur bahwa kita diciptakan sebagai wanita. Pertanyaan mendasar bagi kita adalah seberapa besar kita mensyukuri Rahmat ini. Apakah kita bahagia sebagai ibu, Mami, eyang Puteri, Mbah, emak, mbok dan mbak? Bercermin dari Injil Yohanes, kita belajar mengenal lebih jauh panggilan ini. Maria Magdalena menangis karena kehilangan orang terkasih, hati berduka karena Yesus wafat dan bahwa jenasah-Nya tidak ia temukan. Apakah Maria Magdalena berhenti pada tangisan duka itu? Tidak…sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur; sebuah sikap yang sangat simbolik. Ada aksi lanjutan yang lebih penting dari sekedar menangis. Lebih jauh lagi, kita mengetahui bahwa ada dialog, lagi- lagi sebuah tindakan konkret. Dialog dengan penjaga makam dan Yesus yang sempat tidak dikenali oleh Maria karena duka yang terlampau berat. Sebuah tindakan yang personal dan mendalam. Dialog ini berpuncak pada sapaan pribadi Tuhan yang juga dibalas dengan sapaan pribadi Maria Magdalena kepada Gurunya itu. Perjumpaan pribadi yang mengubah duka menjadi semangat dan semangat kebangkitan inilah yang kemudian menggerakkan Maria Magdalena untuk pergi dan bersaksi ” aku telah melihat Tuhan” kepada para murid yang notabene adalah kaum pria yang tidak atau belum percaya akan kebangkitan.
Peran wanita juga menjadi warna tersendiri dalam sejarah keselamatan misalnya Bunda Maria, Maria dan Marta, Wanita Kanaan, Wanita Samaria dan Lydia. Yesus melibatkan secara penuh para wanita agar keselamatan dapat terlaksana. Perempuan dipanggil untuk membawa kehidupan, sebagai pendidik utama dalam keluarga. Perempuan menjadi mitra kerja Allah. Paskah dan peringatan Kartini adalah masa kebangkitan dan pembaruan. Maka semoga kita makin bersyukur dan makin terlibat dalam berbagi berkat. #den blangkon

“Semangat kebangkitan Kristus menghalau kegelapan menuju terang”

Warta Paroki (24/4/2019). Ada yang istimewa di perayaan Paskah ini, yaitu bertepatan dengan peringatan hari Kartini, untuk itu paguyuban ibu-ibu paroki bersama wanita Katolik RI ranting Jetis menyelenggarakan perayaan Paskah dan Hari Kartini pada Rabu sore, bertempat di gedung sayap timur gereja Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta.

Hadir pada perayaan ini romo Paroki, romo Rafael Tri Wijayanto, Pr, wakil ketua dewan paroki bapak Ludovicus Joko Sunarno, sekretaris dewan paroki, bapak Ferdinand Dody Darmawan, para ketua lingkungan, suster serta tamu undangan.

Acara diawali dengan doa dan lagu pembukaan, dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, ibu Yoanita. Selain sambutan dari ketua PIIP serta romo Paroki, acara juga di selingi dengan persembahan tarian perwakilan dari lingkungan.

Renungan Hari Paskah dan Kartini WKRI Jetis dibawakan oleh suster Luisa Anin, PI, dengan tema ” Merayakan Peran Wanita”.

Mengambil cuplikan bacaan dari injil Yoh 20:11-18, suster Luisa menyampaikan bahwa Paskah dan hari Kartini adalah saat untuk kembali bersyukur bahwa kita diciptakan sebagai wanita. Pertanyaan mendasar bagi kita adalah seberapa besar kita mensyukuri Rahmat ini. Apakah kita bahagia sebagai ibu, Mami, eyang Puteri, Mbah, emak, mbok dan mbak? Bercermin dari Injil Yohanes, kita belajar mengenal lebih jauh panggilan ini. Maria Magdalena menangis karena kehilangan orang terkasih, hati berduka karena Yesus wafat dan bahwa jenasah-Nya tidak ia temukan. Apakah Maria Magdalena berhenti pada tangisan duka itu? Tidak…sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur; sebuah sikap yang sangat simbolik. Ada aksi lanjutan yang lebih penting dari sekedar menangis. Lebih jauh lagi, kita mengetahui bahwa ada dialog, lagi- lagi sebuah tindakan konkret. Dialog dengan penjaga makam dan Yesus yang sempat tidak dikenali oleh Maria karena duka yang terlampau berat. Sebuah tindakan yang personal dan mendalam. Dialog ini berpuncak pada sapaan pribadi Tuhan yang juga dibalas dengan sapaan pribadi Maria Magdalena kepada Gurunya itu. Perjumpaan pribadi yang mengubah duka menjadi semangat dan semangat kebangkitan inilah yang kemudian menggerakkan Maria Magdalena untuk pergi dan bersaksi ” aku telah melihat Tuhan” kepada para murid yang notabene adalah kaum pria yang tidak atau belum percaya akan kebangkitan.
Peran wanita juga menjadi warna tersendiri dalam sejarah keselamatan misalnya Bunda Maria, Maria dan Marta, Wanita Kanaan, Wanita Samaria dan Lydia. Yesus melibatkan secara penuh para wanita agar keselamatan dapat terlaksana. Perempuan dipanggil untuk membawa kehidupan, sebagai pendidik utama dalam keluarga. Perempuan menjadi mitra kerja Allah. Paskah dan peringatan Kartini adalah masa kebangkitan dan pembaruan. Maka semoga kita makin bersyukur dan makin terlibat dalam berbagi berkat.

#den blangkon

 

Lihat Artikel Lain :

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here