Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 7 Januari 2026

Renungan Harian Hari Ini 7 Januari 2026, Bacaan Injil Markus 6:45-52 (baca Alkitab – klik disini)

Bacaan I: 1Yoh. 4:11-18; Mazmur: Mzm. 72:2.10-11.12-13; HARI BIASA SESUDAH EPIFANI (P); St.Raymundus dr Penyafort, Im; B.Lindalva;

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
 
Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
 
Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.
 
Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.
 
Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.
 
Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
 
Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
 
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

.

Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!

Dan kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti!
 
Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!
 
Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;
 
ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin.

.

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
 
Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.
 
Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.
 
Dan ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.
 
Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,
 
sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
 
Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,
 
sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

.

Beginilah firman TUHAN: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan.
 
Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat.
 
Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: “Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada umat-Nya”; dan janganlah orang kebiri berkata: “Sesungguhnya, aku ini pohon yang kering.”
 
Sebab beginilah firman TUHAN: “Kepada orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku,
 
kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama — itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan –, suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka.
 
Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku,
 
mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.
 
Demikianlah firman Tuhan ALLAH yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan menghimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tambahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun.”

.

renungan harian hari ini

Iman kita teruji terutama saat kita sedang dalam kesulitan hidup. Rasa takut terhadap situasi tertentu kerap kali membuat kita tidak nyaman. Jika kita takut, di sana segala pikiran terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk akan mengganggu situasi batin kita.

Perasaan takut itu sering kali membuat kita mudah mengalah dengan keadaan, putus asa dan merasa seolah-olah tidak lagi punya pegangan hidup.

Para murid dalam cerita Injil hari ini mengalami ketakutan, sebab badai angin sakal mengombang-ambingkan perahu mereka. Dalam ketakutan itu, Yesus hadir dan berseru, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Namun, para murid tak mengerti dan tidak mampu melihat dan mengalami kehadiran Yesus dalam situasi tersebut. Mereka bahkan menganggap Dia sebagai hantu.

Dalam perahu kehidupan ini, kita tidak bisa menghindar dari cobaan-cobaan berupa guncangan angin sakal atau badai yang setiap saat terjadi. Rasa takut yang berlebihan sering kali membuat kita mudah berprasangka buruk, mudah goyah sehingga sulit melihat dan melakukan kebaikan yang telah Tuhan perlihatkan kepada kita.

Semoga kita selalu yakin bahwa Tuhan akan selalu menenangkan suasana batin kita dan membebaskan kita dari ketakutan. Memilih teguh beriman kepada-Nya berarti menjadikan Dia penopang di setiap tantangan hidup kita.

.

Bapak, Ibu, dan saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan ini dengan hati yang lebih tenang dan percaya. Sabda hari ini mengajak kita menyadari bahwa ketakutan adalah bagian dari perjalanan iman. Dalam keheningan batin, kita diajak menyerahkan badai hidup yang kita alami, sambil belajar percaya bahwa selalu ada pegangan yang meneguhkan langkah.

Bapa, anugerahkanlah kedamaian bagi hati yang sering gelisah saat kami menghadapi ketidakpastian hidup. Ketika pikiran dipenuhi bayang-bayang kegagalan dan rasa takut bahkan melumpuhkan harapan, semoga tumbuh keberanian kami untuk tetap percaya dan melangkah. Biarlah iman menjadi jangkar yang menahan kami agar tidak tenggelam dalam putus asa.

Tanamkanlah kepekaan rohani agar kami mampu mengenali kehadiran penyelamat di tengah badai kehidupan. Saat mata iman menjadi kabur oleh kecemasan, mampukan kami mendengar sapaan yang menenangkan dan menguatkan dari-Mu. Semoga setiap guncangan justru menumbuhkan kepercayaan yang lebih dewasa dan keteguhan dalam menjalani hidup.

Bimbinglah perjalanan kami agar tidak mudah menyerah ketika perahu kehidupan diguncang angin sakal. Ajarlah kami untuk tetap memilih percaya pada-Mu, meski tidak selalu memahami jalan yang dilalui. Semoga hidup kami menjadi kesaksian bahwa iman yang bertahan di tengah ketakutan akan berbuah pengharapan dan damai sejati. Amin.

.

Ya Tuhan, temani kami agar selalu setia mencari ketenangan batin pada-Mu. Semoga kami tetap berpegang pada-Mu tatkala hidup kami diterpa berbagai masalah. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Baca Juga: Renungan Harian Hari Ini 6 Januari 2026
Baca Juga (KLIK): Doa Pagi Katolik Untuk Awali Hari Indahmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here