Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 4 Oktober 2026

Renungan Harian Hari Ini 4 Oktober 2026, Pembacaan Injil Matius 21:33-43 (baca Alkitab – klik disini)

Pembacaan I: Yes. 5:1-7; Mazmur: 80:9.12.13-14.15-16.19-20; Pembacaan II: Flp. 2:1-11 (Flp. 2:1-5); O PEKAN II PEKAN BIASA XXVI (H);

Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.

Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.

Maka sekarang, hai penduduk Yerusalem, dan orang Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku itu.

Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya? Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?

Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;

Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya.

Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.

.

Engkau telah menyediakan tempat bagi dia, maka berakarlah ia dalam-dalam dan memenuhi negeri;

Mengapa Engkau melanda temboknya, sehingga ia dipetik oleh setiap orang yang lewat?

Babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang memakannya.

Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini,

batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu!

Mereka telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang lenyap oleh hardik wajah-Mu!

Ya TUHAN, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.

.

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

.

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.

Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.

Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.

Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.

Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.

Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.

Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.

Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?”

Kata mereka kepada-Nya: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”

Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.

.

Segala kebijaksanaan dari Tuhan asalnya, dan ada pada-Nya selama-lamanya.

Pasir di laut dan tetes hujan, dan hari-hari kekekalan siapa gerangan dapat membilangnya?

Tingginya langit, luasnya bumi, dan samudera raya dan kebijaksanaan, siapa dapat menduganya?

Sebelum segala-galanya kebijaksanaan sudah diciptakan, dan pengertian yang arif sejak dahulu kala.

Kepada siapakah pangkal kebijaksanaan telah disingkapkan, dan siapakah mengenal segala akalnya?

Hanyalah Satu yang bijaksana, teramat menggetarkan, yaitu Yang bersemayam di atas singgasana-Nya.

Tuhanlah yang menciptakan kebijaksanaan, yang melihat serta membilangnya, lalu mencurahkannya atas segala buatan-Nya.

Pada semua makhluk ia ada sekadar pemberian Tuhan, yang juga membagikannya kepada orang yang cinta kepada-Nya.

BACAAN OFISI – Renungan Harian Hari Ini dan Injil 4 Oktober 2026

Ketakutan akan Tuhan adalah kemuliaan dan kebanggaan, kesukaan dan puncak kegembiraan.

Ketakutan akan Tuhan menyegarkan hati, memberikan sukacita, keriangan dan umur panjang.

Orang yang takut akan Tuhan akhirnya mendapat sejahtera, dan pada hari ajalnya dipuji.

Awal kebijaksanaan ialah ketakutan akan Tuhan, dan bersama dengan orang setiawan diciptakan dalam kandungan ibu mereka.

Laksana dasar abadi ia telah bersarang di tengah-tengah manusia, dan dengan setia tinggal pada keturunan mereka.

Takut akan Tuhan adalah kepenuhan kebijaksanaan, yang memabukkan manusia dengan pelbagai buahnya,

serta memenuhi seluruh rumah mereka dengan harta benda, dan semua gudang mereka dengan hasilnya.

Puncak kebijaksanaan ialah ketakutan akan Tuhan, dan iapun menumbuhkan kesejahteraan dan kesehatan segar.

Tuhan telah melihat serta membilang kebijaksanaan, lalu menghujankan pengertian dan pengetahuan yang arif. Kebijaksanaan mempertinggi kemuliaan semua orang yang memilikinya.

Pangkal kebijaksanaan ialah ketakutan akan Tuhan, dan ranting-rantingnya adalah umur yang panjang.
.

renungan harian hari ini

Pemilik tanah dalam Injil hari ini melambangkan Allah, penggarap melambangkan kita- manusia-dan tanah atau kebun anggur melambangkan Kerajaan Allah. Sama seperti pemilik tanah menyediakan segala sesuatu agar kebun anggur itu tumbuh subur.

Allah telah memberi kita semua yang kita butuhkan, yakni ajaran-Nya, Roh-Nya dan kasih karunia-Nya berupa talenta-talenta dan kelimpahan materi (uang, barang, orang).

Dalam Bacaan Kedua, Paulus menegaskan bahwa segala hal baik memang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Dengan segala hal yang telah Tuhan berikan kepada kita itu, sebenarnya la berharap kita menjadi pengurus yang setia atas “tanah pinjaman-Nya”.

Para penggarap dalam perumpamaan Yesus menolak untuk mengakui otoritas sang pemilik. Sebaiknya kita tidak demikian, kita seharusnya mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah, yakni berasal dari-Nya, dan oleh karena itu harus dipersembahkan kembali kepada-Nya.

Kita semua dipercaya oleh Tuhan untuk memiliki dan mengembangkan “tanah” atau “kebun anggur” kita masing-masing yang berupa bakat menyanyi, bermusik, bersosialisasi, dan berbagai bidang keahlian spesifik lainnya.

Jika suatu saat nanti kita diminta oleh Tuhan untuk berbagi (mengembalikan) hasil “garapan tanah” itu, maukah kita mengembalikannya kepada Tuhan?

Melalui kesediaan kita terlibat aktif dalam pelayanan di tengah masyarakat atau di dalam berbagai aktivitas sosial-pastoral di gereja, sesungguhnya kita telah berusaha menjadi kebun anggur yang baik, karena kita tidak mengabaikan atau menyimpan bakat-bakat itu untuk diri sendiri.

Marilah kita berusaha “menyuburkan tanah” atau mengembangkan berbagai Tuhan potensi yang ada dalam diri kita demi kebaikan sesama. Janganlah kita hanya terus menghasilkan “anggur yang asam'”, seperti yang digambarkan dalam Bacaan Pertama.

Dari kisah ini, kita juga dapat belajar bahwa Allah itu Maha Sabar, tetapi ada konsekuensi atas penolakan manusia terhadap-Nya. Meskipun para penggarap memberontak untuk mengakui siapa yang mempunyai tanah itu, pemilik tanah masih sabar.

la mau bernegosiasi baik-baik dengan mengirim banyak hamba, yang melambangkan para nabi Allah sepanjang sejarah. Berkali-kali, Allah mengulurkan tangan kepada unat- Nya, tetapi mereka mengabaikan para utusan-Nya.

Akhirnya, la mengirim Anak-Nya, Yesus, yang juga mereka tolak. Kesabaran Allah itu tidak terbatas. Namun, ketika orang terus-menerus berpaling dari-Nya bahkan secara keji membunuh para utusan Allah, mereka pun menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka sendiri.

Yesus memperingatkan bahwa kerajaan itu akan diambil dari mereka yang menolak-Nya dan dialihkan kepada orang lain yang dapat menghasilkan buahnya. Jadi, mereka yang menolak Allah dan para utusan-Nya tidak akan memperoleh buah-buah keselamatan, tidak memiliki tanah terjanji, tak berhak tinggal di kerajaan-Nya.

Maka, agar tetap dapat memperoleh keselamatan, marilah kita memahami apa yang Yesus katakan, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.”

Meskipun ditolak atau dibuang oleh manusia, Yesus tetap merupakan dasar yang kukuh bagi iman kita. Kita yang percaya kepada-Nya akan berdiri teguh dan memiliki petunjuk arah yang pasti menuju surga, tetapi mereka yang menolak-Nya akan tersandung dan tersesat.

Apakah kita sudah membangun keputusan, tindakan, dan tujuan kita di atas Dia, yang merupakan batu penjuru kehidupan kita?

.

Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan ini dengan menyadari bahwa segala yang kita miliki adalah anugerah sekaligus kepercayaan dari Allah. Bakat, waktu, pekerjaan, dan harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga untuk menghasilkan buah bagi sesama. Semoga kita semakin setia merawat anugerah itu dan membangun hidup di atas Kristus, Sang Batu Penjuru.

Ya Bapa, terima kasih atas segala anugerah yang telah Engkau percayakan kepada kami. Ampunilah kami ketika kami menganggap bakat, waktu, dan harta sebagai milik pribadi semata. Ajarlah kami menjadi pengelola yang setia, yang merawat setiap pemberian-Mu dengan penuh tanggung jawab dan menggunakannya demi kebaikan banyak orang.

Jadilah Batu Penjuru bagi seluruh hidup kami. Teguhkan iman kami agar keputusan, perkataan, dan tindakan kami berakar pada Sabda-Mu. Ketika kami tergoda untuk menolak kehendak Allah atau berjalan menurut kemauan sendiri, lembutkan hati kami agar bersedia mendengarkan, memperbaiki diri, dan kembali mengikuti jalan keselamatan.

Bukalah mata kami untuk melihat kebutuhan sesama dan keberanian untuk membagikan talenta yang kami miliki. Semoga pelayanan kami di keluarga, Gereja, dan masyarakat menghasilkan buah kasih, keadilan, serta kepedulian. Jangan biarkan kami menyia-nyiakan kepercayaan-Mu, tetapi mampukan kami mempersembahkan kembali hidup ini dengan hati yang tulus. Amin.

.

Tuhan, sadarkanlah kami senantiasa bahwa hanya ketika Engkau menjadi dasar hidup kami, kami dapat berbuah subur. Semoga kami senantiasa menjadikan Engkau sebagai batu penjuru hidup kami dan dapat terus berkarya membuahkan kebaikan meskipun mengalami penolakan. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026, OBOR Indonesia

Baca Juga: Renungan Harian Hari Ini 3 Oktober 2026
Baca Juga (KLIK): Doa Pagi Katolik Untuk Awali Hari Indahmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here
Prove your humanity: 3   +   3   =