Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 12 Desember 2025

Renungan Harian Hari Ini 12 Desember 2025, Bacaan Injil Matius 11:16-19 (baca Alkitab – klik disini)

Bacaan I: Yes. 48:17-19; Mazmur: 1:1-6; R: Yoh. 8:12; PEKAN ADVEN II (U) Sta.Yohanna Fransiska de Chantal; SP Maria dr Guadalupe;

Lalu tampillah nabi Elia bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar.
 
Kelaparan didatangkan-Nya atas mereka, dan jumlah mereka dijadikannya sedikit berkat semangatnya.
 
Atas firman Tuhan langit dikunci olehnya, dan api diturunkannya sampai tiga kali.
 
Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa sama dengan dikau?

Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi.
 
Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub.

.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
 
tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
 
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
 
Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
 
sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

.

Reff. : Alleluya.

Ayat : Tuhan pasti datang. Sambutlah Dia! Dialah pangkal damai sejahtera.

.

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?”
 
Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu
 
dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.”
 
Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

.

Celakalah Ariel, Ariel, kota tempat Daud berkemah! Biarlah tahun demi tahun perayaan-perayaan silih berganti!
 
Aku akan menyesakkan Ariel, sehingga orang mengerang dan mengaduh, dan kota itu akan seperti perapian bagi-Ku.
 
Aku akan berkemah di segala penjuru mengepung engkau, dan akan membuat tempat-tempat pengintaian untuk mengimpit engkau, dan akan mendirikan pagar-pagar pengepungan terhadap engkau.
 
Maka engkau akan merendahkan diri dan engkau bersuara dari dalam tanah, perkataanmu kedengaran samar-samar dari dalam debu; suaramu akan berbunyi seperti suara arwah dari dalam tanah, dan perkataanmu akan kedengaran seperti bisikan dari dalam debu.
 
Akan tetapi segala pasukan lawanmu akan hilang lenyap seperti abu halus, dan semua orang yang gagah sombong akan menjadi seperti sekam yang melintas terbang. Sebab dengan tiba-tiba, dalam sekejap mata,
 
engkau akan melihat kedatangan TUHAN semesta alam dalam guntur, gempa dan suara hebat, dalam puting beliung dan badai dan dalam nyala api yang memakan habis.
 
Maka segala pasukan bangsa-bangsa yang berperang melawan Ariel, dan semua orang yang memerangi dia dan kubu pertahanannya dan orang-orang yang menyesakkan dia akan seperti mimpi dan seperti penglihatan malam-malam:
 
seumpama seorang yang lapar bermimpi ia sedang makan, pada waktu terjaga, perutnya masih kosong, atau seumpama seorang yang haus bermimpi ia sedang minum, pada waktu terjaga, sesungguhnya ia masih lelah, kerongkongannya masih dahaga, demikianlah halnya dengan segala pasukan bangsa-bangsa yang berperang melawan gunung Sion.

.

renungan harian hari ini

Keluhan Yesus yang kita baca dalam Injil hari ini menunjukkan bahwa banyak orang tidak merespons dengan tepat karya dan pesan yang dibawa, baik yang dibawa oleh Yohanes Pembaptis maupun yang dibawa oleh Yesus sendiri.

Yohanes Penmbaptis, yang hidup dalam kesederhanaan dan penyangkalan diri, dianggap kerasukan setan. Sementara Yesus, yang menghadiri pesta dan makan bersama pemungut cukai serta orang berdosa, dikritik sebagai pemabuk dan sahabat para pendosa.

Kita sering kali menolak pesan-pesan rohani yang tidak sesuai dengan harapan atau prakonsepsi kita. Padahal, kita sebenarnya diajak untuk merenungkan sikap hati terhadap pesan-pesan rohani tersebut. Kita cenderung menginginkan pesan yang tidak mengganggu zona nyaman kita atau yang sesuai dengan apa yang kita anggap benar.

Kita diundang untuk menyadari pentingnya keterbukaan dan kerendahan hati dalam menerima kebenaran. Kebenaran yang datang dari Tuhan sering kali menuntut kita untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi kenyataan diri kita yang sebenarnya, yang bisa saja jauh berbeda dari apa yang kita yakini atau kita harapkan.

.

Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan ini dengan hati yang perlahan ditenangkan. Semoga Sabda hari ini membantu kita menyadari bagaimana seringnya kita menolak kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan keinginan kita. Kiranya benih renungan ini tinggal dalam hati, membentuk sikap yang lebih terbuka dan rendah hati di hadapan Tuhan.

Ya Bapa, semoga kesediaan untuk belajar dari setiap cara Tuhan berbicara kiranya tumbuh dalam diri kami. Saat pesan rohani terasa menggelisahkan, kami berani melihatnya sebagai undangan untuk bertumbuh. Dalam kegelisahan itulah kiranya hati kami diperbarui dan semakin peka akan kehadiran-Mu.

Kami paham bahwa keterbukaan hati terhadap kebenaran sering kali membutuhkan keberanian. Di saat kami lebih ingin mempertahankan zona nyaman, mohonkan kerahiman-Mu agar kami mampu melihat apa yang sesungguhnya perlu diubah. Semoga kejujuran untuk menilai diri tidak membuat kami takut, tetapi justru menuntun pada pembaruan.

Semoga kerendahan hati yang dibutuhkan untuk menerima teguran kiranya semakin mengakar dalam hidup kami. Ketika pesan-Mu datang melalui cara yang tidak kami duga—melalui orang sederhana, situasi sulit, atau suara batin—semoga kami tidak menolaknya. Dalam setiap sapaan, biarlah kami semakin dekat dengan kebenaran-Mu yang membebaskan. Amin.

.

Ya Tuhan, berilah kami keterbukaan hati untuk menanggapi pesan dan undangan-Mu, teristimewa ketika segala kenyamanan dan kesenangan membuat kami terlena dan enggan berubah. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Baca Juga: Renungan Harian Hari Ini 11 Desember 2025
Baca Juga (KLIK): Doa Pagi Katolik Untuk Awali Hari Indahmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here