Beranda Berita Terbaru Minggu Palma: Sang Raja yang Dielu-elukan

Minggu Palma: Sang Raja yang Dielu-elukan

308
0

Hari Minggu, 10 April 2022 kita sebagai umat Katolik telah memasuki masa Pekan Suci. Diawali dengan perayaan Ekaristi Minggu Palma menyambut Yesus yang datang dengan penuh kesederhanaan.

Raja yang datang tanpa mahkota memasuki kota Yerusalem hanya dengan menaiki seekor keledai. Keledai atau kuda beban merupakan simbol kesederhanaan, kerendahan hati dan perdamaian. Yesus datang dengan kasih dan kelemahlembutan.

Perayaan Ekaristi Minggu Palma di Gereja Santo Albertus Agung Jetis dilakukan dalam 4 sesi dibagi masing-masing wilayah mulai dari wilayah 1 hingga 4.

Disiarkan secara online pada perayaan Ekaristi Minggu Palma ke II dimulai pukul 8 tepat dipimpin oleh Romo Vincentius Suparman. Perayaan Ekaristi dimulai dengan lagu pembuka dan ajakan Romo untuk mengangkat daun palma.

Sebagai simbol menyambut Tuhan Yesus yang masuk ke kota Yerusalem, umat mengangkat daun palma tinggi-tinggi dan bernyanyi lagu ‘Yerusalem Lihatlah Rajamu’. Dilanjutkan pemberkatan daun palma dengan pemercikan air suci.

Homili diawali dengan ajakan salam dari Romo Vincentius Suparman, Pr. ‘Hosanna Putra Daud’ sebanyak tiga kali diikuti oleh umat yang hadir.

.

Rasa-rasanya ketika merayakan perayaan Ekaristi Minggu Palma umat Katolik kembali diingatkan dengan arti simbol Daun Palma. Daun palma merupakan simbol kemenangan, kejayaan dan kegembiraan.

Yesus datang sebagai Raja untuk menanggung sengsara dan wafat di kayu Salib bagi semua umat manusia bahkan tak terbatas pada agama Katolik saja. Yesus menyelamatkan semua bangsa dari dosa.

Di perayaan Ekaristi Minggu Palma, kita dituntut untuk mengubah situasi dari sukacita menuju ke penderitaan dan sengsara. Sama halnya dengan penggambaran hidup manusia.

Kerap kali kita dihadapkan dengan situasi menyenangkan namun di lain waktu terjadi situasi yang kurang menyenangkan. Itulah dinamika hidup yang patut kita hadapi.

.

Peristiwa Yesus yang memasuki kota suci Yerusalem dengan sukacita, damai karena Dia yang adalah Raja menaklukkan dunia dengan kerendahan hati.

Bukan dengan pasukan berkuda, senjata yang hebat atau bom nuklir Ia menaklukkan dunia dengan kasih. Begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Allah mengutus putraNya yang tunggal untuk menjadi jaminan keselamatan umat Manusia.

Itu terlaksana dalam diri Yesus Kristus yang rela taat kepada Bapa bahkan sampai mati di kayu salib.

Lalu bagaimana kita sebagai umat Katolik menyatukan permenungan sukacita dan penderitaan Yesus? Setiap individu memiliki sukacita dan ‘penderitaan’ masing-masing namun yang terpenting adalah tekun dan setia.

.

Seperti Yesus yang memasuki kota Yerusalem, dielu-elukan namun kemudian harus berkorban rela mati di kayu salib. Namun Ia tetap setia memanggul salib hingga wafat.

Ini memberikan teladan bagi kita untuk setia pula dalam memanggul salib kita masing-masing. Tekun dalam menanggung segala penderitaan dan tetap percaya kepada Allah.

Sebab kesetiaan akan berbuah keselamatan sebaliknya keputusasaan dan keengganan akan berujung pada kegagalan.

Puncak dari perayaan Ekaristi Mingu Palma adalah merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus (pasio). Intinya, Tuhan lagi-lagi memberikan teladan kepada kita bagaimana menjadi setia sampai akhir.

Walaupun dihina, disiksa sedemikian rupa Tuhan Yesus tak gentar untuk tetap melanjutkan karya penebusannya bagi kita. Tuhan tak hanya bersabda namun memberikan contoh secara nyata apa yang dimaksud dengan pengorbanan secara total.

Semoga kitapun mampu mencontoh Tuhan Yesus yang tekun dan tetap setia dalam memikul salib kita masing-masing.

Selamat memasuki Pekan Suci. Berkah Dalem.

.
.

Penulis : Chris

.
.

Lihat Artikel Lain :

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here